ANALISIS NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL “MATA PENAKLU” KARYA ABDULLAH WONG
Rizky Ramadhani Putra
Program Studi Sastra Indonesia
Fakultas Sastra Universitas Pamulang
Jl. Surya Kencana No. 1 Pamulang Barat – Pamulang, Tangerang Selatan, Banten
rizkyrputra06@gmail.com
Abstrak
Artikel ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat dalam Novel "Mata Penakluk" karya Abdullah Wong. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu menggunakan metode pendekatan kualitatif, berdasarkan sumber yang diperoleh dari Novel ini untuk menganalisa nilai-nilai pendidikan karakternya.
Kata Kunci: nilai-nilai, pendidikan karakter, mata penakluk
PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan karya seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Karya sastra sendiri adalah hasil ekspresi yang dicurahkan oleh pengarang untuk bisa dinikmati oleh pembacanya. Ekspresi atau ungkapan adalah upaya untuk mengeluarkan sesuatu dalam diri manusia. Bentuk diri manusia dapat diekspresikan keluar, dalam berbagai bentuk, sebab tampa bentuk tidak akan mungkin isi tadi disampaikan pada orang lain. Ciri khas penggungkapan bentuk pada sastra adalah bahasa.
Bahasa adalah bahan utama untuk mewujudkan ungkapan pribadi di dalam suatu bentuk yang indah. Menilik hal itu karya sastra khususnya novel memiliki beberapa ide pikiran yang simetris dengan pola sosial kehidupan masyarakatnya, sehingga novel pada hakikatnya merupakan penghayatan terhadap kehidupan. Sebagai hasil penghayatan pegarang terhadap kehidupan dengan sendirinya pembaca atas semua novel dapat mendekatkan kita terhadap kehidupan itu.
Sebagai suatu contoh Novel "Mata Penakluk" karya Abdullah Wong. Novel ini menceritakan bagaimana kecerdasan sekaligus kekonyolan Gus Dur, pendidikan pesantren yang ditempuh Gus Dur, pergulatan diri Gus Dur dengan ayahnya, hingga mimpi-mimpi besar Gus Dur. Tapi, lebih dari itu, novel yang dimulai dengan Gus Dur ketika masih di istana, membuat kita tersadar bahwa kiai nyentrik itu pernah menjabat sebagai presiden di negeri ini. Tentang batin Gus Dur ketika dirinya dilengserkan dari dalam istana misalnya.
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian Kualitatif adalah metode yang lebih menekankan pada aspek pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah daripada melihat permasalahan untuk penelitian generalisasi.
Metode penelitian ini lebih suka menggunakan teknik analisis mendalam (in-depth analysis), yaitu mengkaji masalah secara kasus perkasus karena metodologi kulitatif yakin bahwa sifat suatu masalah satu akan berbeda dengan sifat dari masalah lainnya. Tujuan dari metodologi ini bukan suatu generalisasi tetapi pemahaman secara mendalam terhadap suatu masalah. Penelitian kualitatif berfungsi memberikan kategori substantif dan hipotesis penelitian kualitatif.
PEMBAHASAN
Novel Mata Penakluk ini merupakan novel karangan Abdulloh Wong. Dalam Novel setebal 300 halaman ini menceritakan tentang pernak pernik masa kecil Gus Dur yang mengharukan, impian menjadi sang penakhluk, kecerdasan dan kekonyolan Gus Dur, pendidikan pesantren yang ditempuh Gus Dur, pergulatan diri Gus Dur dengan Ayahnya, hingga mimpi-mimpi besar Gus Dur.
Selain itu dalam novel ini diceritakan pula kejadian kecelakaan yang di alami Gus Dur dan ayahnya yang mengakibatkan ayahnya meninggal dunia. Tak luput pula, penulis juga menceritakan bagaimana Gus Dur bertemu dengan Nuriyah, yaitu seorang santri perempuan di salah satu pesantren yang pernah ditempuh Gus Dur yang akhirnya menjadi Istrinya. Novel ini berakhir dengan cerita di mana Gus Dur Dilengserkan dari kursi kepresidenan, dan demi mencegah terjadinya perang sesama rakyat Indonesia, Gus Dur memilih pergi ke Amerika Serikat.
Nilai-nilai Pendidikan Karakter
Nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Mata Penakluk diantaranya sebagai berikut:
Religius
Religius adalah nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan. Hal itu dapat ditunjukan dalam pikiran, perkataan dan tindakan seseorang yang didasarkan nilai-nilai ke Tuhanan atau ajaran agamanya. Dalam novel Mata Penakluk tersebut jelas memiliki nilai pendidikan karakter religius karena latar belakang keluarga yang agamis. Kakek dan ayah Gus Dur adalah seorang Kiai. Ayah Gus Dur merupakan anak dari Kiai besar di Indonesia, sudah tidak diragukan lagi ajaran agama yang melekat dalam dirinya. Hal ini bisa dilihat dari ketika ia mengalami kecelakaan, ia masih sempat bertakbir karena ia selalu menyerahkan hidup dan matinya kepada Allah. Ibu Gus Dur juga memiliki keyakinan yang kuat akan ajaran agamanya,seperti saat ia mendampingi ayah Gus Dur ketika berada di rumah sakit setelah kecelakaan. Ia terus membimbing ayah Gus Dur mengucapkan lafadz Allah dengan harapan ketika memang benar meninggal, ia dalam keadaan husnul Khotimah.
Selain berada dalam keluarga yang agamis, Gus Dur juga dikirim ibunya ke pondok agar lebih memperdalam ilmu agama dan mengajinya. Tentunya saat masih di pondok, Gus Dur dibimbing untuk terus menjalankan syariat Islam yang lebih dibandingkan yang ia terima di rumah. Sholat 5 waktu, Sholat sunnah, puasa ramadhan, puasa sunnah, tadarus, mengaji sudah tentu dilakukan Gus Dur selama di pondok.Perilaku religius lain yang ditunjukkan oleh Gus Dur adalah ia sangat berbakti kepada orang tuanya, terutama ibunya.Semua perkataan ibu Gus Dur seperti titah yang harus dilakukan oleh Gus Dur.
Toleransi
Toleransi adalah Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.146Nilai toleransi yang tampak pada novel ini adalah kebiasaan Gus Dur yang selalu menghargai pendapat orang lain yang baik yang buruk. Seperti ketika ada seseorang yang berkata “Orang kalau ndakmau ngaji ya tetep saja bodoh. Tak peduli ia anak anak kiai atau wali sekalipun”. Sebenarnya Gus Dur tidak terima ketika ia dikait-kaitkan dengan dengan ayah ataupun kakeknya yang seorang kiai, namun ia mampu menahan emosinya dan memilih pergi.Hal lain yang menunjukan nilai toleransi adalah ketika Gus Dur berlawanan pendapat dengan Mahfud tentang ilmu yang seharusnya dipelajari. Mahfud yang enggan membaca buku tentang kapitalis dan menganggap buku seperti itu haram. Gus Dur yang memandang semua ilmu itu baik tidak memaksakan pendapatnya kepada Mahfud yang memiliki pendapat yang berlawanan dengannya. Selain itu, Bisri Syansuri yang memiliki ilmu yang bertolak belakang dengan Abdul wahab masih bisa berteman akrab antara mereka. Hal tersebut juga mengandung nilai toleransi yang patut kita contoh.
Disiplin
Tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Disiplin juga diartikan sebagai pengontrolan diri untuk mendorong dan mengarahkan seluruh daya dan upaya dan menghasilkan sesuatu tanpa ada yang menyuruh untuk melakukan.147Nilai kedisiplinan dalam novel ini tampak ketika masih Gus Dur kecil. Ia sudah terbiasa menaati ketentuan yang mereka buat sendiri dalam permainan. Contoh ketentuan tersebut adalah ketika Wak Kaji lewat, semua permainan harus dihentikan meskipun sedang senang-senangnya. Pada akhirnya mereka selalu mengakhiri permainan setiap Wak Kaji lewat untuk berangkat ke masjid. Nilai kedisiplinan tersebut juga ditunjukan oleh ibu Gus Dur yang selalu membangunkan Gus Dur ketika iabelum bangun untuk sholat Subuh. Sehingga setelah besar dan sudah tidak tinggal bersama ibunya, Gus Dur telah terbiasa mengakhiri pekerjaannya untuk melaksanakan sholat ketika mendengar adzan berkumandang. Selain itu sikap tegas yang dimiliki mbah Bisri juga dapat dijadikan contoh disiplin bagi kita semua.
Kerja Keras
Kerja keras adalah Perilaku yang menunjukan sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan baik. Pendidikan karakter kerja keras dalam novel ini ditunjukan dalam sikap Gus Dur dalam menuntut ilmu. Ketika masih menjalanisekolah di SMEP Gowangan, ia juga ikut di pondok Krapyak untuk belajar bahasa arab. Meskipun harus menjalani pembelajaran di dua tempat, ia tidak lantas menyerah karena merasa sangat melelahkan. Ia sangat bersemangat demi dirinya di masa depan dan menjawab harapan yang inginkan oleh ayah dan ibu Gus Dur.
Kreatif
Pendidikan karakter kreatif dalam novel ini muncul melalui pribadi Gus Dur yang terkenal nyleneh dan nyentrik. Gus Dur memang sangat sulit ditebak. Seperti ketika ia mengambil keputusan kepada santri pencuri celana dalam. Bagi kebanyakan orang pasti akan mengeluarkannya, namun bagi Gus Dur mengeluarkannya bukanlah jalan keluar. Menurut Gus Dur orang tua santri mengirim anaknya ke pondok agar mereka dididik, jadi menurutnya tidaklah pantas mereka mengeluarkan santri tersebut. Namun tetap saja santritersebut mendapat hukuman dari Gus Dur.
Mandiri
Mandiri adalah sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas. Dalam novel ini tidak diceritakan secara jelas bahwa Gus Dur telah bisa hidup mandiri. Namun jika dilihat kenyataannya Gus Dur telah lama hidup tidak bersama ibunya, Ia telah lama tinggal di pondok. Ketika ditawari untuk tinggal di pondok milik kakeknya, Gus Dur menolak karena disana akanmendapat perlakuan khusus. Ia lebih memilih pondok yang bisa ia tempati dan ia mendapat perlakuan sama dengan santri lainnya. Dengan tinggal dipondok, ia harus belajar mandiri seperti santri lainnya. Ia harus mampu mencuci baju sendiri dan belajar mengatur waktu, bahkan ia harus mengatur keuangan sendiri.
Demokratis
Demokratis adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain. Contoh sederhana pendidikan karakter demokratis dalam novel ini adalah ketika Gus Dur dan teman-temannya bermain bola. Ia dan temannya bisa saling kerja sama. Selain itu mereka mampu memosisikan dirinya masing-masing sesuai posisi yang ditempati dengan hak dan kewajiban masing-masing.
Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar. Pendidikan karakter rasa ingin tahu ini tampak sekali pada diri Gus Dur ketika masih kecil. Iasangat ingin mengetahui hal-hal sampai ia memahaminya, bahkan ia sering menanyakan perkara yang simple namun sebenarnya sangat sulit untuk menjawab pertanyaannya. Seperti halnya ketika Gus Dur menanyakan arti Kiai yang sebenarnya kepada Mas Boy.
Semangat Kebangsaan
Di dalam novel ini telah banyak diceritakan jiwa patriotisme yang dimiliki Gus Dur. Seperti ketika ia memilih untuk tidak mengizinkan para pendukung untuk melakukan perlawanan terhadap pendemo yang menginginkan Gus Dur turun dari kursi kepresidenan. Ia mengetahui jika pendukungnya melakukan perlawanan, makaakan terjadi peperangan antara rakyat sendiri yang menyebabkan perpecahan. Selain itu jika terjadi peperangan maka Gus Dur akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat. Namun demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, ia rela turun dari kursi kepresidenannya. Meskipun tidak sah menurut hokum, ia terpaksa melakukannya demi bangsa dan negara ini. Selain itu ia bisa berada menjadi presiden merupakan bentuk pengabdian Gus Dur kepada negara Indonesia ini.
Cinta Tanah Air
Cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa. Peserta didik harus menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan bangsa, belajar sekuat tenaga agar dapat membangun bangsa ini menjadibangsa yang maju, disegani, dan dihormati oleh bangsa lain. Bagi Gus Dur keanekaragaman negara merupakan kekayaan bangsa yang berharga. Ia sangat menghargai keanekaragaman tersebut. Contoh simpel yang dapat kita lihat dalam novel ini adalah ketika ia masih menggunakan panggilan zaman dahulu warisan budaya negara kita seperti pak lik, uwak, mang, dan lain sebagainya.
Bersahabat/Komunikatif
Bersahabat/komunikatif adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain. Orang yang selalu bersahabat selalu menunjukan keinginan besar untuk menyapa dengan bahasa yang santun dan terkadang humoris jika suah saling kenal lebih dekat. Hal ini merupakan kebiasaan sejak kecil yang dialami Gus Dur. Gus Dur telah berinteraksi dengan banyak orang sejak ia masih kecil ketika ayahnya masih hidup. Hal ini karena teman teman ayah atau masyarakat banyak yang kerumahnya untuk berkunjung ataupunmenyelesaikan suatu masalah. Selain itu Gus Dur juga selalu diajak ayahnya ketika berpergian. Ia selalu berusaha diajak ayahnya agar Gus Dur terbiasa dengan kehidupan sosial bermasyarakat.
Gemar Membaca
Gemar membaca adalah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebijakan bagi dirinya. Membaca adalah fondasi awal untuk mencerdaskan kehidupan manusia dan mengembangkan sikap dan perilaku, mental-spiritual.158Menurut penulis karakter gemar membaca bisa dibilang karakter paling menonjol dalam novel ini. Dijelaskan bahwa sejak kecil hingga GusDur telah dewasa bahkan tidak bisa melihat dengan sempurna ia masih haus akan pengetahuan. Bahkan ketika masih kecil sebagai anak yang sangat aktif bergerak, membaca adalah salah satu alasan Gus Dur mau berdiam diri.
PENUTUP
Terdapat nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Mata Penakluk karya Abdulloh Wong. Nilai-nilai yang terdapat dalam novel tersebut antara lain: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, bersahabat/komunikatif, gemar membaca. Banyak pesan moral yang bisa diambil didalam novel ini untuk bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Wong, Abdullah. 2015. Mata Penakluk Manakib Abdurrahman Wahid. Bandung: PT Mizan Publika.
Syahbudin, Imam Amsori. 2020. “Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Novel Mata Penakluk Manakib Abdurrahman Wahid Karya Abdullah Wong dan Relevansinya dengan Kompetensi Kepribadian Guru”. Ponorogo: Program Pascasarjana IAIN PONOROGO. http://etheses.iainponorogo.ac.id/11967/1/uploud%20perpus%20210316262%20imam%20syahbudin%20amsori.pdf
(Diakses pada 16 Juli 2021)
Komentar
Posting Komentar